Sayur yang warnanya cerah dan tidak bolong-bolong memang lebih menarik untuk dibeli. Tapi, sebenarnya untuk mendapatkan sayur seperti itu biasanya dibutuhkan pestisida dengan jumlah yang tidak sedikit.
Petani menggunakan pestisida untuk menjaga tanaman dari serangan hama, sehingga didapatkan hasil panen yang bagus (tidak cacat). Namun, tak jarang pestisida yang berlebihan dan tidak sesuai dengan aturannya.
Selain bisa berdampak merusak lingkungan, pestisida juga berbahaya bagi kesehatan manusia. WHO memperkirakan ada 1-5 juta kasus keracunan pestisida yang terjadi pada pekerja pertanian setiap tahunnya.
Yuk pelajari lebih lengkap tentang pestisida serta dampaknya untuk kehidupan. Tenang, di akhir juga ada solusinya buat kita Moms!
Terdapat 6 jenis pestisida yang biasa digunakan dalam aktivitas pertanian, yaitu:
1. Fungisida, adalah jenis pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur atau fungi.
2. Herbisida, adalah jenis pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma atau tumbuhan pengganggu.
3. Insektisid, adalah jenis pestisida yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan hama serangga.
4. Akarisida, merupakan jenis pestisida yang digunakan untuk membasmi kutu atau tungau yang hinggap pada tanaman
5. Mulluskisida, pestisida yang digunakan untuk mengendalikan keberadaan siput atau keong emas.
6. Bactericida, adalah jenis pestisida yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang diakibatkan bakteri.
Keracunan umumnya diderita oleh pekerja pertanian yang melakukan kontak langsung dengan pestisida. Gejala dari keracunan kronis pestisida pada manusia seperti sakit kepala, tremor, perut mual, muntah, dan keletihan.
Efek berkelanjutan dari keracunan pestisida adalah kerusakan ginjal, sistem imunitas, sistem saraf, sel-sel hati, dan sistem reproduksi.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa paparan pestisida yang tinggi dan berlangsung dalam jangka panjang mampu meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit parkinson. Hal tersebut dikarenakan racun yang ada dalam pestisida dapat merusak saraf tubuh.
Terdapat beberapa penelitian yang mengaitkan kemunculan kanker dengan paparan pestisida jangka panjang. Kanker yang kebanyakan terjadi seperti kanker otak, leukemia, kanker ginjal, kanker kulit, dan limfoma.
Jenis pestisida tertentu, yakni organoklorin dapat menimbulkan resiko kanker payudara. Sebab bahan aktif pestisida ini dapat menirukan aksi hormon estrogen sehingga mengganggu keseimbangan hormon, yang berakibat meningkatnya proliferasi sel pada payudara.
Bahan kimia yang terkandung dalam pestisida dapat merusak sistem saraf. Maka dari itu ibu hamil disarankan untuk menghindari paparannya terutama pada trimester pertama kehamilan.
Sebab, pada trimester pertama sistem saraf janin sedang berkembang pesat, apabila ibu hamil terpapar akan sangat beresiko bagi perkembangan janinnya.
Paparan pestisida dapat menyebabkan pubertas dini pada anak laki-laki. Hal tersebut dikarenakan adanya kandungan bahan kimia pada pestisida yang diduga dapat meningkatkan produksi hormon testosteron.
Tujuan dari penggunaan pestisida adalah untuk menghilangkan hama pengganggu tanaman. Sayangnya tidak ada pestisida yang secara spesifik bisa menyasar spesies hama tertentu. Sehingga hewan kebun yang bermanfaat untuk proses pertanian seperti kepik dan burung, justru akan teracuni juga oleh pestisida.
Penggunaan pestisida yang tidak sesuai aturan dapat menyebabkan punahnya suatu spesies. Akibat dari punahnya suatu spesies adalah adanya ledakan hama karena hilangnya musuh alami yang menahan perkembangan dari hama tersebut.
Punahnya suatu spesies dan ledakan spesies lain dalam suatu ekosistem dapat mengubah pola interaksi yang ada. Rusaknya pola interaksi karena rantai makanan yang terputus, hilangnya musuh alami, dan perubahan aliran energi mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu.
Pestisida yang diberikan melebihi takaran dan diberikan tidak pada waktunya dapat mempengaruhi penyerapan pestisida oleh tanaman. Akibatnya banyak pestisida yang jatuh ke permukaan tanah.
Bahan kimia yang terkandung dalam pestisida dapat membunuh mikroorganisme yang ada dalam tanah. Jika organisme tanah mati maka kesuburan tanah juga akan terganggu.
Pestisida tidak selalu terserap dengan baik oleh tanaman sehingga justru mencemari lingkungan sekitar. Pestisida yang larut ke aliran air menjadi ancaman besar bagi habitat akuatik.
Beberapa jenis pestisida bahkan mampu mengendap di dalam perairan hingga ratusan tahun sehingga mencemari mikroplanton yang menjadi makanan ikan, yang akhirnya berpindah ke dalam tubuh manusia.
Pestisida alami atau pestisida yang terbuat dari bahan dasar tanaman ini adalah jenis pestisida yang sederhana dan ramah lingkungan.
Bahan dasar yang bisa ditemukan di sekitar kita seperti bawang putih, tembakau, sirsak, pepaya, dan serai memiliki kegunaan yang berbeda-beda.
Meskipun kerjanya lebih lambat dibandingkan pestisida kimia, pestisida ini memberikan residu yang lebih sedikit bagi lingkungan dan lebih aman bagi petani.
Selain menggunakan pestisida alami pengaplikasian kompos juga dipercaya dapat menurunkan serangan patogen penyebab penyakit. Selain bermanfaat sebagai pengendali patogen, kompos juga sangat baik untuk meningkatkan kualitas tanah.
Petani organik memanfaatkan tanaman border untuk mengalihkan perhatian hama/penyakit, sehingga serangga akan hinggap di tanaman border dan tidak menyerang tanaman utama.
Gimana Moms, sepakat kan kalau pestisida banyak memberi efek negatif terhadap kita dan lingkungan? Karenanya mari kita dukung para petani kita dengan mengonsumsi sayur & buah organik.
Untuk Moms yang ingin membeli sayuran organik dengan harga terjangkau bisa langsung buka aplikasi Kecipir atau kunjungi “link ini”.
Comments