Bagi mahasiswa yang udah ngejalanin semester 6, pasti ada satu tuntutan kegiatan yang engga bisa di hindari apalagi ga di urusin, karena jika engga, istilahnya belum afdhol jadi mahasiswa semester tua kalau belum ngerasain pengalaman itu. Saya dan mahasiswa lainnya biasa namain kegiatan itu dengan sebutan “Magang Kerja”. So here i am, yang mau semester tua ini sudah berada di tempat magang bersama rekan-rekan sejawad sejiwa segila mamang sule, di sebuah perusahaan yang dapat di bilang pahlawan bagi para petani indonesia, terutama di wilayah jawa barat. Karena apa, perusahaan ini secara ga langsung bisa naikin tingkat kesejahteraan petani yang sekarang masih jadi boneka wayang oleh price makers diluar sana.
Perusahaan yang jadi tempat magang tercinta saya ini adalah Perusahaan Kecipir.com. Gambaran singkat dari perusahaan ini adalah perusahaan distributor sayuran organik dengan mengadopsi teknologi internet untuk masarin produk para petani sayur organik yang telah bermitra dengan Kecipir.com itu sendiri. Image organik yang dibangun oleh Kecipir.com itu menandakan bahwa Kecipir.com bisa memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat didalam perusahaan itu, baik dari para petani, para agen, sampai kepada konsumen.
Pemasaran produk organik ga hanya dari para petani mitra saja, tapi Kecipir.com sendiri juga produk sayuran organiknya lahan pertanian yang perusahaan miliki, yang di olah oleh tiga orang petani, yaitu Mang Jejen, Mas Mus(limin), dan Mang Ali, dan pastinya secara organik. Pembimbing magang saya yang ter-ketjeh, Pak Hendrik, yang mengatur kegiatan magang saya selama dua bulan kedepan ini, menjadwalkan saya dan teman-teman untuk dapat menggali lebih dalam terlebih dahulu bagaimana teknik bertani organik di lapang di bulan awal magang. Ternyata, Pak Dimas Gemaprayoga, selaku digital marketing Kecipir.com, tidak salah ngeramal kalau memang banyak banget kegiatan yang dapat saya lakukan jika saya terjun langsung ke lahan kebunnya. Say thank to all, we can create our new adventures.
Bohong banget kalau saya tidak terkesan dengan apa yang saya alami di kebun seminggu ini. It’s just wonderfull. Outfit ternyaman buat berkebun, mulai dari sepatu boot, sarung tangan, dan topi caping, menjadi saksi bisu saya selama berkecimpung di kebun.
Hari pertama, kegiatan pertama, jam kerja pertama, saya dan teman-teman awali dengan kegiatan pengolahan lahan. Ada beberapa bedengan yang akan di rotasi tanamannya dengan tanaman selada, yang harus dilakukan pengolahan lahan. I feel, alhamdulillah ilmu di kuliah kepake di hari pertama magang. Beres, sudah terbiasa. Next, bersama Mang Jejen dan Mang Ali, saya dan teman-teman diajak untuk menyirami bedengan-bedengan itu dengan larutan pupuk K57 dan air, gunanya untuk mengendalikan hama yang masih ada di bedengan atau disekitarnya. Next, bersama Mang Jejen dan Mang Ali (lagi), diajak untuk ikut bantu memasang mulsa MPHP (Mulsa Plastik Hitam Perak) di bedengan yang barusan di lakukan pengolahan lahan. Saya flashback ke matakuliah yang telah saya ambil dan nihil, memang saya belum pernah punya pengalaman memasang mulsa MPHP. Jadi ini pengalaman pertama bagi saya, dan rasanya cukup sulit karena ada tips dan trik tertentu. Singkatnya, tarik-buka-paskan ditengah-kubur. namanya juga “singkatnya”. Bedengan yang sudah tertutupi dengan MPHP, akan iap ditanami selada setelah 1 minggu pengolahan.
Kegiatan dilanjut dengan pemetikan buah timun dan kecang panjang yang sudah tua dan kering untuk diambil biji atau benihnya agar dipersiapkan menjadi bibit di rumah pembibitan. Sebelum masuk di rumah pembibitan, biji yang di ambil dikeringkan dibawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Selanjutnya, saya dan teman-teman diarahkan untuk menanam selada keriting, selada merah, dan labu madu. Karena yang saya tahu, untuk memperlakukan baby plant harus lembut dan penuh awas, jadi saya cukup lama untuk menyelesaikan misi itu. Jika ada salah dengan baby plant-nya, bisa jadi down pertumbuhannya.
Hari kedua, Hari selasa. Bertambahlah kembali pengalaman saya. Karena apa, pertama kalinya saya membuat polibag benih dari daun pisang bermula dari pertanian organik milik Kecipir.com. Saya cukup merasa sedikit kecewa dengan diri saya sendiri, bahwa hal kreatif ini tidak terlintas sama sekali di pikiran saya. Menjamin image organik dan juga kelestarian alam, sudah terbukti dilakukan oleh pertanian di lahan milik Kecipir.com. Ditemani dengan Mang Ali, saya dan teman-teman saya mengikuti intruksi untuk membuat polibag dari daun pisang yang ciri-cirinya sudah cukup tua. Selain lebih mudah dan lebih ekonomis, daun pisang digunakan ini nantinya akan terurai dan menjadi pupuk bagi tanaman itu sendiri. Tidak perlu mengandalkan polibag plastik lagi sehingga tidak banyak menimbulkan limbah.
Di hari selanjutnya, saya dan teman-teman banyak melakukan kegiatan menanam beberapa jenis sayuran, penyiraman yang dilakukan pagi dan sore, dan penyiangan terhadap gulma di bedengan. Khususnya pada hari kamis, saya merasakan dua pengalaman baru sekaligus, yaitu pemberian pupuk cair dan pemanenan serta penimbangan berat hasil panen yang di sesuaikan dengan permintaan. Untuk menjamin organiknya, pupuk yang di aplikasikan benar-benar hanya pupuk kandang yang terbuat dari kotoran kambing-kambing tercinta milik Kecipir.com dan air, yang kemudian direndam di dalam tong berukuran medium selama beberapa hari. Secara visual, pupuk cairnya terlihat seperti minuman rasa vanila yang di blender dengan biskuit oreo, dilengkapi dengan buble-buble yang lezat. Saya bisa membayangkan itu. Dangers For Human, Good For Plant.
Adapun kegiatan menimbang hasil panen, saya dan teman-teman didampingi oleh Pak Chrys Wiyanto, selaku Kepala yang mengurusi bagian kebun dan tiga Mamang-mamang, selaku petani yang mengolah lahan tersebut. Saya dan teman-teman bersepakat untuk membagi tugas untuk menyelesaikan misi baru ini. Saya bertugas di bagian administrasi untuk menginformasikan sayur apa dan berapa berat yang diperlukan kepada petani untuk dipanen dan mencatat hasil panen yang sudah di packaging dan masuk kedalam keranjang. Para petani bertugas untuk memanen sayuran yang diinfokan dari saya. Ratu bertugas untuk menimbang hasil panen yang disesuaikan dengan permintaan. Karlita dan Nia bertugas untuk mengemas hasil panen yang nantinya akan dikemas kembali secara rapi di bagian kantor packaging.
Di hari sabtu, Kecipir.com mengadakan sosialisasi agen dan mengundang para agen yang baru bergabung bersama Kecipir.com untuk mengikut acara tersebut. Saya dan teman-teman juga ikut andil dalam mempersiapkan acara itu, sekaligus menerima materi sosialisasi tersebut dengan bertemakan: Sosialisasi sistem penanganan produk dan pemasaran yang dilakukan oleh agen yang disampaikan oleh Pak Hendrik dan Pak Herlambang.
Dilanjut dengan mengajak para agen untuk melihat langsung ke kebun milik Kecipir.com bagaimana teknik bertani secara organik yang sesungguhnya. Para agen juga diperbolehkan untuk memanen/memetik sayur selada dan labu madu sebagai buah tangan dari kunjungan ke kebuk Kecipir.com. Acara ini di tutup dengan foto bersama para agen dan staff (termasuk saya dan teman-teman) dan makan siang bersama (termasuk saya dan teman-teman, lagi).
Penulis: Dewi Masfufah
Comments